Selasa, 18 Oktober 2016

Kelas Kata

7 Kelas Kata


Kata Benda (Nomina)

Kata benda (nomina) adalah kata-kata yang merujuk pada pada bentuk suatu benda, bentuk benda itu sendiri dapat bersifat abstrak ataupun konkret.dalam bahasa Indonesia kata benda (nomina) terdiri dari beberapa jenis, sedangkan dari proses pembentukannya kata benda terdiri dari 2 jenis, yaitu :
  1. Kata Benda (Nomina) Dasar: Kata benda dasar atau nomina dasar ialah kata-kata yang yang secara konkret menunjukkan identitas suatu benda, sehingga kata ini sudah tidak bisa lagi diuraikan ke bentuk lainnya. Contoh : buku, meja, kursi, radio, dll.
  2. Kata Benda (Nomina) Turunan: Nomina turunan atau kata benda turunan ialah jenis kata benda yang terbentuk karena proses afiksasi sebuah kata dengan kata atau afiks. Proses pembentukan ini terdiri dari beberapa bentuk, yaitu :
    1. Verba + (-an) contoh: Makanan.
    2. (Pe-) + Verba contoh: Pelukis.
    3. (Pe-) + Adjektiva contoh: Pemarah, Pembohong.
    4. (Per-) + Nomina + (-an) contoh: Perbudakan.

Kata Kerja (Verba)

Kata kerja atau verba adalah jenis kata yang menyatakan suatu perbuatan. Kata kerja dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
  1. Kata Kerja Transitif: Kata kerja transitif merupakan kata kerja yang selalu diikuti oleh unsur subjek, contoh : membeli, membunuh memotong, dll. Dilihat dari segi bentuknya kata kerja transitif dapat dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu: Kata kerja transitif berimbuhan dan kata kerja transitif tak berimbuhan.
  2. Kata Kerja Intransitif: Kata kerja intransitif ialah kata kerja yang tidak memerlukan pelengkap. Seperti kata tidur untuk contoh kalimat berikut: saya tidur, pada kalimat tersebut kata tidur yang berposisi sebagai predikat (P) tidak lagi diminta menerangkan untuk memperjelas kalimatnya, karena kalimat itu sudah jelas.
Di dalam Bahasa Indonesia ada 2 dasar dalam pembentukan verba, yaitu dasar yang tanpa afiks tetapi telah mandiri karena telah memiliki makna, dan bentuk dasar yang berafiks atau turunan. dari bentuk verba ini dapat dibedakan menjadi :
  1. Verba Dasar Bebas: ialah verba yang beruba morfem dasar bebas, misalnya: duduk, makan, mandi, minum, dll.
  2. Verba Turunan: ialah verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem.
Beberapa bentuk verba turunan :
1.       Verba berafiks : berbuat, terpikirkan, dll.
2.       Verba bereduplikasi : bangun-bangun, ingat-ingat, dll.
3.       Verba berproses gabungan : bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, dll.
4.       Verba majemuk : cuci mata, cuci tangan, dll.

Kata Sifat (Adjektifa)

Kata sifat ialah kelompok kata yang mampu menjelaskan atau mengubah kata benda atau kata ganti menjadi lebih spesifik. Karena kata sifat mampu menerangkan kuantitas dan kualitas dari kelompok kelas kata benda atau kata ganti.

Ciri-ciri Kata Sifat

  1. Kata sifat terbentuk karena adanya penambahan imbuhan ter- yang mengandung makna paling.
  2. Kata sifat dapat diterangkan atau didahului dengan kata lebih, agak, paling, sangat & cukup.
  3. Kata sifat juga dapat diperluas dengan proses pembentukan seperti ini : se- + redupliasi (pengulangan kata) + -nya, contoh : sehebat-hebatnya, setinggi-tingginya, dll.

Beberapa Proses Pembentukan Kata Sifat

  1. Kata sifat yang terbentuk dari kata dasar, misalnya: kuat, lemah, rajin, malas, dll.
  2. Kata sifat yang terbentuk dari kata jadian, misalnya: terjelek, terindah, terbodoh, dll.
  3. Kata sifat yang terbentuk dari kata ulang, misalnya: gelap-gulita, pontang-panting, dll:
  4. Kata sifat yang terbentuk dari kata serapan, misalnya: legal, kreatif, dll.
  5. Kata sifat yang terbentuk dari kata atau kelompok kata, misalnya: lapang dada, keras kepala,baik hati, dll.

Kata Ganti (Pronomina)

Kelompok kata ini dipakai untuk menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan. Kelompok kata ini dapat dibedakan menjadi 6 bentuk, yaitu:
  1. Kata Ganti Orang: ialah jenis kata yang menggantikan nomina. Kata ganti orang dapat dibedakan lagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:
    1. Kata ganti orang pertama tunggal, misal: aku, saya.
    2. Kata ganti orang pertama jamak, misal: kami, kita.
    3. Kata ganti orang kedua tunggal, misal: kamu.
    4. Kata ganti orang kedua jamak, misal: kamu, kalian, Anda, kau/engkau.
    5. Kata ganti orang ketiga tunggal, misal: dia, ia.
    6. Kata ganti orang ketiga jamak, misal: mereka, beliau.
  2. Kata Ganti Kepemilikan: ialah kata ganti yang dipakai untuk menyatakan kepemilikan, misal: “buku kamu/bukumu”, “buku aku/bukuku”, “buku dia/bukunya”,dsb.
  3. Kata Ganti Penunjuk: ialah kata ganti yang dipakai untuk menunjuk suatu tempat atau benda yang letaknya dekat ataupun jauh, misal: “di sini”, “di sana”, “ini”, “itu”, dsb.
  4. Kata Ganti Penghubung: ialah kata ganti yang digunakan untuk menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat kata yang dipakai yaitu: “yang”, “tempat”,”waktu”.
  5. Kata Ganti Tanya: ialah kata ganti yang dipakai untuk meminta informasi mengenai sesuatu hal, kata Tanya yang dimaksud ialah “apa”, “siapa”, “mana”.
  6. Kata Ganti Tak Tentu: ialah kata ganti yang digunakan untuk menunjukkan atau menggantikan suatu benda atau orang yang jumlahnya tak menentu (banyak), misal: masing-masing, sesuatu, para, dsb.

Kata Keterangan (Adverbia)

Kata keterangan adalah jenis kata yang memberikan keterangan pada kata kerja, kata sifat, dan kata bilangan bahkan mampu memberikan keterangan pada seluruh kalimat. Kata keterangan dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
  1. Kata Keterangan Tempat: ialah jenis kata yang memberikan informasi mengenai suatu lokasi, misal: di sini, di situ, dll.
  2. Kata Keterangan Waktu: ialah jenis keterangan yng menginformasikan berlangsungnya sesuatu dalam waktu tertentu, misal: sekarang, nanati, lusa, dll
  3. Kata Keterangan Alat: ialah jenis kata yang menjelaskan dengan cara apa sesuatu itu dilakukan ataupun berlangsung, misal: “dengan tongkat”, “dengan motor”, dll.
  4. Kata Keterangan Syarat: ialah kata keterangan yang dapat menerangkan terjadinya suatu proses dengan adanya syarat-syarat tertentu, misal: jikalau, seandainya, dll.
  5. Kata Keterangan Sebab: ialah jenis kata yang memberikan keterangan mengapa sesuatu itu dapat terjadi, misal; sebab, karena, dsb.

Kata Bilangan (Numeralia)

Kata bilangan ialah jenis kelompok kata yang menyatakan jumlah, kumpulan, urutan sesuatu yang dibendakan. Kata bilangan juga dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:
  1. Kata bilangan tentu, contoh: satu, dua, tiga, dst.
  2. Kata bilangan tak tentu, contoh: semua, beberapa, seluruh, dll.
  3. Kata bilangan pisahan, contoh: setiap, masing-masing, tiap-tiap.
  4. Kata bilangan himpunan, contoh: berpuluh-puluh, berjuta-juta.
  5. Kata bilangan pecahan, contoh: separuh setengah, sebagian, dll.
  6. Kata bilangan ordinal/giliran, contoh: pertama, kedua, ketiga, dst.

Kata Tugas

Kata tugas ialah kata yang memiliki arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Kata tugas juga memiliki fungsi sebagai perubah kalimat yang minim hingga menjadi kalimat transformasi. Dari segi bentuk umumnya, kata-kata tugas sukar mengalami perubahan bentuk. Kata-kata seperti : dengan, telah, dan, tetapi dan sebagainya tidak bisa mengalami perubahan. Tapi, ada sebagian yang bisa mengalami perubahan golongan kata ini jumlahnya sangat terbatas, misalnya: tidak, sudah kedua kata itu dapat mengalami perubahan menjadi menidakkan & menyudahkan.

Ciri-ciri Kata Tugas

Ciri dari kata tugas ialah bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Jika verba datang dapat diturunkan menjadi mendatangi, mendatangkan & kedatangan. Bentuk-bentuk seperti menyebabkan dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab & sampai tetapi dari nomina sebab dan verba sampai yang membentuknya sama tapi kategorinya berbeda.

Jenis-jenis Kata Tugas

  • Preposisi (kata depan): ialah jenis kata yang terdapat di depan nomina (kata benda), misalnya : dari, ke & di. Ketiga kata depan ini dipakai untuk merangkaikan kata-kata yang menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat. Contoh : Di Jakarta, di rumah, ke pasar, dari kantor.
  • Konjungsi (kata sambung): ialah jenis kata yang dapat menggabungkan 2 satuan bahasa yang sederajat, misalnya : dan, atau & serta. Jenis kata tugas yang mampu menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa. Konjungsi (kata sambung) dapat dibagi menjadi 4, yaitu:
  1. Konjungsi Koordinatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 unsur atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama contoh: dan, atau & serta.
  2. Konjungsi korelatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 kata, frasa atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi korelatif rerdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh satu frasa, kata atau klausa yang dihubungkan oleh : baik .... maupun, tidak .... tetapi.
  3. Konjungsi Antarkalimat: yaitu konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Konjungsi jenis ini selalu membuat kalimat baru, tentu saja dengan huruf kapital di awal kalimat. Contoh : Biapun begitu, akan tetapi ....
  4. Konjungsi Subordinatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 klausa atau lebih dan klausa itu merupakan anak kalimat. Konjungsi ini terbagi lagi menjadi 12 kelompok, yaitu:
    1. Konjungsi subordinatif waktu : sejak, semenjak, sedari, sewaktu.
    2. Konjungsi subordinatif syarat : jika, jikalau, bila, kalau.
    3. Konjungsi subordinatif pengandaian : seandainya, seumpama.
    4. Konjungsi subordinatif konsesif : biarpun, sekalipun.
    5. Konjungsi subordinatif pembandingan : seakan-akan, seperti.
    6. Konjungsi subordinatif sebab : sebab, karena, oleh sebab.
    7. Konjungsi subordinatif hasil : sehingga, sampai.
    8. Konjungsi subordinatif alat : dengan, tanpa.
    9. Konjungsi subordinatif cara : dengan, tanpa.
    10. Konjungsi subordinatif komplementasi : bahwa.
    11. Konjungsi subodinatif atribut : yang
    12. Konjungsi subordinatif perbandingan : sama ... dengan, lebih ... dari.
  • Artikula (kata sandang): ialah jenis kata yang mendampingi kata benda atau yang membatasi makna jumlah orang atau benda. Kata sandang tidak mengandung suatu arti tapi memiliki fungsi. Fungsi kata sandang sendiri ialah untuk menentukan kata benda, mensubstansikan suatu kata yang besar, yang jangkung, dan lain-lain. Kata-kata sandang umum yang terdapat dalam Bahasa Indonesia ialah yang, itu, -nya, si, sang, hang, dang. Kata-kata sandang seperti sang, hang, dang banyak ditemui dalam kesusastraan lama, sekarang sudah tidak terpakai lagi terkecuali kata sandang sang. Kata sandang sang terkadang masih dipergunakan untuk mengagungkan atau untuk menyatakan ejekan maupun ironi. Dalam Bahasa Indonesia terdapat beberapa kelompok artikula, yaitu:
1.       Artikula yang bersifat gelar ialah artikula yang bertalian dengan orang yang dianggap bermartabat. Berikut ini jenis artikula yang bersifat gelar : sang, hang, dang, sri.
2.       Artikula yang mengacu ke makna kelompok / makna korelatif ialah kata para. Karena artikula ini bermakna ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai ialah para guru bukan para guru-guru.
3.       Artikula yang menominalkan. Artikula si yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau genetik, tergantung pada konteks kalimat.
  • Interjeksi (kata seru): ialah kata yang mengungungkapkan perasaan. Macam-macam kata seru yang masih dipakai hingga sekarang ialah :
  1. Kata seru asli, yaitu : ah, wah, yah, hai, o, oh, nah, dll.
  2. Kata seru yang berasal dari kata-kata biasa, artinya kata seru yang berasal dari kata-kata benda atau kata-kata lain yang digunakan, contoh : celaka, masa', kasihan, dll.
  3. kata seru yang berasal dari beberapa ungkapan, baik yang berasal dari ungkapan Indonesia maupun yang berasal dari ungkapan asing, yaitu : ya ampun, demi Allah, Insya Allah, dll.
  • Partikel Penegas: ialah kategori yang meliputi kata yang tidak tunduk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas, yaitu: -lah, -kah, -tah & pun.


https://www.academia.edu/4869261/7_Kelas_Kata_dalam_Bahasa_Indonesia

Anafora dan Katafora

Anafora adalah peranti dalam bahasa untuk membuat rujuk silang dengan hal atau kata yang telah dinyatakan sebelumnya. Peranti itu dapat berupa kata ganti persona  seperti dia, mereka, nomina tertentu, konjungsi, keterangan waktu, alat, dan cara.
Contoh:
Bu Mastuti belum mendapat pekerjaan, padahal dia memperoleh ijazah sarjananya dua tahun lalu. (dia beranafora dengan Bu Mastuti)

Katafora adalah rujuk silang terhadap anteseden yang ada di belakangnya.
Contoh:

Setelah dia masuk, langsung Tony memeluk adiknya. (dia merujuk pada Tony)

Umar Kayam

Umar Kayam adalah nama yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. Semasa hidupnya ia sangat aktif di berbagai bidang. Ia dikenal sebagai sastrawan, budayawan, sosiolog, kolumnis, mantan pejabat, penulis skenario, dan aktor film. Ialah pemeran Bung Karno dalam film layar lebar produksi Pusat Film Nasional (PFN) yang berjudul Pengkhianatan G 30 S PKI. Sebuah film dokumenter yang dijadikan oleh pemerintah sebagai tontonan wajib bagi rakyat Indonesia pada zaman Orde Baru. Umar Kayam lahir di Ngawi, Jawa Timur, pada tangggal 30 April 1932.

Sebenarnya, orang tuanya tinggal di Solo. Akan tetapi, menjelang kelahiran Umar Kayam, orang tuanya memang sengaja datang ke Ngawi, rumah kakek Umar Kayam, karena Sang kakek ingin cucu pertamanya lahir di rumahnya. Maka, lahirlah Umar kayam di Ngawi.
Nama Umar Kayam yang disandangnya adalah pilihan ayahnya, Sastrosoekoso. Nama itu meniru nama Omar Khayam , seorang sufi, filsuf, ahli perbintangan, ahli matematika, dan pujangga kenamaan asal Persia yang hidup pada abad ke-12. Ayahnya berharap bahwa Umar Kayam bisa menjadi manusia yang cemerlang seperti Omar Khayam.
Uka, sapaan akrab Umar Kayam, mengakhiri masa lajangnya pada usia 27 tahun. Ia menikahi gadis Minang yang bernama Roosliana Hanoum pada tanggal 1 Mei 1959 di Medan. Resepsinya diadakan di Singaraja, Bali, tempat Umar Kayam bertugas saat itu. Kehidupan rumah tangganya berjalan langgeng. Ia menerapkan sikap demokrasi di keluarganya, tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak dan istrinya.
Sita, putri sulungnya, misalnya, menyukai tari Jawa, tetapi kurang bisa berbahasa Jawa. Umar kayam, yang sangat peduli terhadap budaya Jawa, tidak mau ikut campur untuk memaksa putrinya harus menguasai bahasa Jawa, meskipun menurut pikirannya seharusnya memang demikian. Ia membiarkan anak-anaknya berkembang menurut kehendak anak itu sendiri. Begitu pula dengan istrinya, yang akrab disapa dengan nama kecilnya, Yus, tidak dipaksanya menjadi istri dan ibu yang harus bekerja di rumah mengurusi rumah tangganya saja. Ia merelakan istrinya berkarier, bahkan mendukungnya, jika hal itu yang dibutuhkan oleh istrinya.
Umar Kayam memulai pendidikan formalnya di kota Solo. Ia menyelesaikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah peratama (SMP)-nya di kota itu. Dari Solo ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah atas (SMA) di Yogyakarta dan menamatkannya di SMA Semarang. Ia kembali lagi ke Yogyakarta setelah lulus SMA.
Di Yogyakarta ia masuk ke Fakultas Paedagogi, Universitas Gajah Mada (UGM).
Ia meraih gelar B.A (sarjana muda) pada tahun 1955 dari sana. Tentu saja debutnya tidak
hanya sampai di situ. Bagi Umar Kayam pendidikan itu penting dan ia selalu ingin menambah pengetahuannya. Keingintahuannya terhadap sesuatu yang diminatinya memang sangat besar. Maka, dilanjutkannyalah pendidikannya ke Universitas New York, di Amerika Serikat. Ia berhasil meraih gelar M.A. (1963) dari negeri Paman Sam itu.
Dua tahun kemudian, 1965, ia kembali menunjukkan kemauan dan kemampuannya dalam menggali ilmu, ia meraih gelar Ph.D dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Gelar professor diperolehnya dari UGM, tempat ia mengabdikan ilmunya, pada tahun 1986 dan dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Sastra UGM pada tahun 1988.
Sangat banyak pekerjaan yang pernah digeluti oleh Umar Kayam dan dalam berbagai jenis pula. Pengetahuannya yang tinggi dan wawasannya yang luas memungkinkan ia menggeluti semua pekerjaan itu. Jabatan kariernya dimulai dari dosen pada Fakultas Sastra, UGM. Seiring dengan peningkatan sumber daya manusianya yang cukup menonjol, meningkat pula kariernya di UGM, bahkan merambat ke tempat lain. Berikut ini karir beliau, ialah:
1. Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film, Departemen Penerangan, Republik Indonesia (Dirjen RTF) pada tahun 1966--1969 ,
2. Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta pada tahun 1968—1972,
3. Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1969—1972,
4. Direktur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang (1975—1976),
5. Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan, UGM pada tahun 1977,
6. Ketua Dewan Film Nasional pada tahun 1978—1979,
7. Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) pada tahun 1988, dan
8. Anggota Akademi Jakarta pada tahun 1988.
9. Anggota MPRS,\
10.         Dosen UI dan dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta, Senior Fellow pada East-West Center, Hawai, AS, anggota penyantun/penasehat majalah Horison.
Pandangan Umar Kayam yang cenderung modern dalam membina rumah tangganya itu, ternyata kontradiktif dengan pandangannya dalam menyikapi kemajuan zaman, khususnya teknologi komputer. Meski zaman telah dilanda komputerisasi, Profesor doktor yang pernah menjabat sebagai guru besar di Universiatas Gajah Mada itu enggan meninggalkan mesin ketik manualnya yang kalau dipakai mengeluarkan suara yang dapat menagganggu orang di sekitarnya. Jika teman-temannya membujuknya untuk menggunakan komputer, Umar Kayam menantang mereka, “Yakinkan saya bahwa dengan komputer saya bisas kreatif.” Tentu saja tak seorang pun yang dapat memberikan jaminan.
KARYA:
Karya-Karya Umar Kayam
a. Cerpen
1. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
2. Istriku, Madame Schultz, dan Sang Raksasa
3. Sybil
4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat
5. Chief Sitting Bull
6. There Goes Tatum
7. Musim Gugur Kembali di Connecticut
8. Kimono Biru buat Istri
b. Novel Pendek
1. Sri Sumarah
2. Bawuk
Kedelapan cerpen di atas bersama dua novelet—Sri Sumarah dan Bawuk—diterbitkan dalam satu buku yang berjudul Sri Sumarah, pada tahun 1975. Penerbitnya adalah Pustaka Jaya, Jakarta.
c. Novel
1. Para Priyayi (Pustaka Jaya, 1992)
2. Jalan Menikung (Pustaka Jaya 2002)








Sumber: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/195/Umar%20Kayam

Kamis, 13 Oktober 2016

GUS MUS (K.H. A. MUSTOFA BISRI)

PUISI-PUISI KH. MUSTOFA BISRI (GUS MUS)

PILIHAN
Antara kaya dan miskin tentu kau memilih miskin
Lihatlah kau seumur hidup tak pernah merasa kaya

Antara hidup dan mati tentu kau memilih mati
Lihatlah kau seumur hidup mati-matian mempertahankan kematian

Antara perang dan damai tentu kau memilih damai
Lihatlah kau habiskan umurmu berperang demi perdamaian

Antara beradab dan biadab tentu kau memilih beradab
Lihatlah kau habiskan umurmu menyembunyikan kebiadaban dalam peradaban

Antara nafsu dan nurani tentu kau memilih nurani
Lihatlah kau sampai menyimpannya rapi jauh dari kegalauan dunia ini

Antara dunia dan akhirat tentu kau memilih akhirat
Lihatlah kau sampai menamakan amal-dunia sebagai amal akhirat

Antara ini dan itu
Benarkah kau memilih itu?
1410/1989









NASIHAT RAMADLAN BUAT A. MUSTOFA BISRI
Mustofa,
Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan
Ramadlan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi
atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang
menggerakkan lidahmu begitu.

Mustofa,
Ramadlah adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya
untukNya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya
kepadamu. Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa,
Ramadlan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu
serahkanlah semata-mata padaNya. Bersucilah untukNya. Bersalatlah
untukNya. Berpuasalah untukNya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri
untukNya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.
Sucikan tanganmu. Berpuasalah.
Sucikan mulutmu. Berpuasalah.
Sucikan hidungmu. Berpuasalah.
Sucikan wajahmu. Berpuasalah.

Sucikan matamu. Berpuasalah.
Sucikan telingamu. Berpuasalah.
Sucikan rambutmu. Berpuasalah.
Sucikan kepalamu. Berpuasalah.

Sucikan kakimu. Berpuasalah.
Sucikan tubuhmu.
Berpuasalah.
Sucikan hatimu.
Sucikan pikiranmu.
Berpuasalah.
Suci
kan
dirimu.

Mustofa,
Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang
mengingatkan kedlaifan dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu
atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan kelamin, lebih tahan
sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu
hasrat dikekang untuk apa dan siapa.

Puasakan kelaminmu
untuk memuasi Ridla
Puasakan tanganmu
untuk menerima Kurnia
Puasakan mulutmu
untuk merasai Firman
Puasakan hidungmu
untuk menghirup Wangi
Puasakan wajahmu
untuk menghadap Keelokan
Puasakan matamu
untuk menatap Cahaya
Puasakan telingamu
untuk menangkap Merdu
Puasakan rambutmu
untuk menyerap Belai
Puasakan kepalamu
untuk menekan Sujud
Puasakan kakkmu
untuk menapak Sirath
Puasakan tubuhmu
untuk meresapi Rahmat
Puasakan hatimu
untuk menikmati Hakikat
Puasakan pikiranmu
untuk menyakini Kebenaran
Puasakan dirimu
untuk menghayati Hidup.

Tidak.
Puasakan
hasratmu
hanya untuk
Hadlirat
Nya
!

Mustofa,
Ramadlan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah
merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.
Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian
keserakahan ujub riya takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari
comberan hatimu?
Mustofa,
inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati.

Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu
yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi
kau puja selama ini.
Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini
seperti Ramadlan-ramadlan yang lalu.
Rembang, Sya’ban 1413

NEGERIKU
mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
DI NEGERI AMPLOP
…
Amplop-amplop di negeri amplop
Mengatur dengan teratur
Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur
Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur
Memutuskan putusan yang tak putus
Membatalkan putusan yang sudah putus
Amplop-amplop menguasai penguasa
Dan mengendalikan orang-orang biasa
Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan
Mencairkan dan membekukan
Mengganjal dan melicinkan
Orang bicara bisa bisu
Orang mendengar bisa tuli
Orang alim bisa nafsu
Orang sakti bisa mati
Di negeri amplop
Amplop-amplop mengamplopi
apa saja dan siapa saja
1414


AKU MASIH SANGAT HAFAL NYANYIAN ITU
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita
bersama
Sejak kita di sekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu
menyanyikannya
Ketika anak-anak disuruh
Menyanyi di depan klas
satu-persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak
menyanyikan lagu itu
bersama-sama
Sudah lama sekali
Pergaulan sudah tidak
seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri
Atau
tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah di mana
Tapi aku masih sangat
hafal nyanyian itu, sayang
Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya
kembali
Bersamamu
Indonesia
tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu
dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan
bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup
mata

Aku merindukan rasa haru dan iba
Di tengah kobaran kebencian
dan dendam
Serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang mengubah
lirik lagu
Kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya dengan nada
sendu
Indonesia tanah air
kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu
dihina-hina bangsa
Di sana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan
dunia
Tempat bertarung merebut kuasa
Sampai entah kapan
akhirnya

Sayang, di manakah kini kau
Mungkinkah kita bisa menyanyi
bersama lagi
Lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti
dulu
Rembang, 2000

NEGERI HAHA HIHI
(A. Mustofa Bisri)
Bukan karena banyaknya grup lawak maka negeriku selalu kocak.
Justru grup-grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak.
Negeriku lucu dan para pemimpinnya suka mengocok perut:
Banyak yang terus pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan.
Banyak yang terus pamer keberanian dengan kebodohan yang mengharukan.
Banyak yang terus pamer kekerdilan dengan teriakan yang memilukan.
Banyak yang terus pamer kepengecutan dengan lagak yang memuakkan. Ha ha…
Pejuang keadilan jalannya miring
Penuntut keadilan kepalanya pusing
Hakim main mata dengan maling
Wakil rakyat baunya pesing. Hi hi …
Kalian jual janji-janji
untuk menebus kepentingan sendiri
Kalian hafal pepatah-petitih
untuk mengelabui mereka yang tertindih.
Pepatah-petitih, ha ha…
Anjing menggonggong kalian terus berlalu
Sambil menggonggong kalian terus berlalu
Ha ha, hi hi……
Ada udang di balik batu
Otaknya udang kepalanya batu
Ha ha, hi hi……
Sekali dayung dua pulau terlampaui
Sekalu untung dua pulau terbeli
Ha ha, hi hi……
Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Kalian mati meninggalkan hutang
Ha ha, hi hi……
Hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri
Lebih b aik yuk hujan-hujanan caci-maki
Ha ha, hi hi……
 =============================================================
TENTANG K.H. A. MUSTOFA BISRI
K.H. A. Mustofa Bisri atau biasa dipanggil Gus Mus, lahir 10 Agustus 1944, putra dari KH. Bisri Mustofa, ulama dari Rembang. Masa kecil dan remaja dihabiskan di lingkungan pesantren. Tercatat pernah nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Krapyak Yogyakarta dan Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang, kemudian melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo. Saat ini, beliau menjadi pengasuh di Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang. Karya tulisnya banyak tersebar di media massa dan dibukukan, mengupas masalah keislaman, politik, sosial, budaya. Gus Mus telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi, antara lain: (1). Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem, (2). Tadarus, Antologi Puisi, (3). Mutiara-mutiara Benjol, (4). Pahlawan dan Tikus, (5). Syair Asma’ul Husna (bahasa Jawa), (6). Rubaiyat Angin dan Rumput, (7). Wekwekwek.